Selasa, 23 Februari 2016

Betina Kesepian


Dia lelaki kesepian dan aku haus akan belaian. Seharusnya kami bisa bersenyawa dan saling melengkapi. Tapi tidak, justru kami tidak saling berinteraksi meski kami tinggal di bawah atap yang sama. Dia sibuk dengan dunianya, dan aku larut dalam duniaku. Tak ada tegur sapa darinya semenjak kami tinggal bersama. Aku tidak tahu mengapa ia bersikap begitu. Boleh dibilang aku nyaris putus asa untuk menarik perhatiannya. Dulu aku mencoba menebar pesona, melenggak-lenggok di depannya, berusaha mendekat dan merajuk, tapi ia hanya menatapku sekilas dan berlalu. 

Kadang aku membayangkan duduk dipangkuannya dan bersenda gurau. Tapi ia terlalu dingin dan tak peduli. Puji syukur aku tak diapa-apakan olehnya. Akhirnya aku memang tak bisa berharap banyak dan tahu diri kalau aku memang tidak menarik hatinya. Aku memang tidak cantik, malah berkesan kampung dan udik. Dan satu lagi kekuranganku, aku tuli. Meski aku bisa merasakan indahnya warna-warni dunia, tapi aku hanya memandangnya dalam kesenyapan. Kau mau tahu mengapa aku tuli? Baiklah, akan kuceritakan. Tapi kuharap kau tidak memberikan rasa iba karena itu tiada guna. Lagi pula apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku? Semua sudah terjadi.

Aku tuli karena takdir. Nasibku memang buruk. Sedari kecil aku sudah dicampakkan karena tidak diharapkan. Aku hidup hanya mengandalkan naluri. Kesana kemari mencari sesuap nasi. Suatu saat ada orang jahat, ia menyiksaku hingga sekarat. Ia menendang dan menghajarku karena karena ketahuan mencuri. Kejahatan yang kulakukan, tak sesuai dengan hukuman yang aku dapatkan. Aku harus kehilangan pendengaran. Kepada siapa aku harus mengadu? Aku hanya makhluk tak berdaya. Masih untung tak kehilangan nyawa. Semenjak itu aku jadi takut bila bertemu orang. Kau boleh menyebutku Paranoia. Menjauhi keramaian dan sangat berhati-hati dengan orang-orang. Dunia ini memang kejam, dan aku harus punya cara untuk bertahan.

Di saat itulah aku bertemu lelaki itu. Ia sendiri di rumahnya yang jauh dari pemukiman. Terpencil sendiri tak berteman. Aku tidak tahu apakah ia punya keluarga atau tidak. Ia laki-laki yang berteman sepi. Baginya rumah hanyalah gua untuk bersembunyi, atau untuk melepas penat seharian setelah berjibaku di luar sana melawan dunia. Pergi pagi pulang menjelang malam, bahkan tak jarang bila matahari sudah lama masuk ke peraduan. 

Aku sering menunggunya di depan pintu. Berharap ia menyapaku, membelai kepalaku. Tapi seperti yang aku katakan, ia dingin tak peduli seperti orang yang tak punya hati.

Kebiasaannya yang lain yang aku tahu adalah menonton tivi sambil selonjoran. Kadang sampai tertidur di depan tivi. Aku suka mengintipnya dari balik pintu. Lucu sekali melihat kepalanya yang terkulai dengan mulut yang sedikit menganga.

Ia bukan lelaki tampan sebenarnya, tak ada yang istimewa. Hidungnya sedikit besar dengan rambut kasar berombak. Badannya terlalu kurus untuk tingginya yang semampai. Kalau boleh kutebak usianya bisa jadi sudah setengah baya. Sudah terlihat keriput di sudut mata dan sebagian uban yang menyumbul dari balik kepala.

Kadangkala pikiran usilku suka bertanya. Tidak adakah keinginannya untuk punya keluarga? Punya istri dan beranak pinak? Kenapa masih hidup sendiri? Ataukah ia lelaki yang tak percaya diri ataukah lagi pernah disakiti? 

Aku saja kepingin. Tapi bila keinginan itu datang terpaksa aku tahan. Aku terlalu takut pergi jauh mencari pasangan. Lebih baik berdiam di rumah ini sembari terus menanti kalau ada yang datang. 
Jadilah aku jadi penunggu rumah paling setia. Tidak pernah ke mana-mana. Sesekali mengamati orang lewat di depan rumah. Itu pun hanya lewat satu dua. Siang hari memang selalu terlihat sepi, malam apalagi. Tapi sesungguhnya bagiku inilah lingkungan teraman untuk ditinggali. Tempat ideal bagi para pecinta sepi.

***
Aku sedang leyeh-leyeh di teras rumah sore itu. Tanpa aku sadari, tiba-tiba saja ada sesosok pejantan muncul di hadapanku entah dari mana datangnya. Tubuhnya tegap, dengan kepala yang kokoh. Matanyanya begitu nyalang menatapku. Mulutnya menyeringai dan mengucapkan sesuatu. Aku hanya terpana, tanpa bisa berkata-kata.

Harus kuakui kalau aku terpesona pada pandangan pertama. Walau penampilannya terlihat lusuh, tapi auranya begitu kuat menggoda. Mungkin saja ia jantan pengelana yang kebetulan lewat depan rumah.
Aku tersipu malu ketika ia terus menatapku dengan sorot menggoda. Ia terus mendekat dan mendekatiku. Jantungku berdebar-debar ketika ia mengambil tempat di sampingku tanpa malu-malu. Diajaknya aku bicara sesuatu, tapi aku tak mendengar dan merespon hanya dengan senyuman.

"Oke...oke...lebih baik kita bicara dengan bahasa kalbu kalau kau tak mampu mengatakan sesuatu untukku" gerak bibirnya jelas kubaca. Dan akhirnya kami bicara dalam diam. Lama saling berpandangan.

Tapi ternyata, kebersamaanku dengannya hanya berlangsung sementara. Lelaki itu akhirnya datang dan melihat aku bersama pejantan baru, ia marah. Lelaki itu mengamuk dengan melempar sebongkah batu kepada kekasih baruku. Aku hanya bisa pasrah. Tapi aku yakin jantan pengelanaku akan kembali, karena dari sorot matanya, ia diliputi gairah. Sebagai betina kesepian tentu saja aku merasa terbakar asmara.

***
Ternyata dugaanku tak salah. Si Jantan pengelana kembali di malam hari. Seperti seorang pencuri ia mengendap-endap datang kepadaku yang ketika itu sedang menikmati udara malam di teras rumah berteman cahaya rembulan. Aku dan dia dengan insting purbawi mencari tempat yang aman untuk memadu kasih. Kamipun memanjat loteng diam-diam. Tapi  sudah naluri, kami tak bisa diam-diam dalam bercinta. Geradak-geruduk kami membuat si lelaki paruh baya marah di bawah sana. Tapi kami tidak peduli, terus bercinta melepas hasrat purba. Pengalaman pertama yang begitu berkesan. Usai semua itu, si jantan pengelana pergi meninggalkanku.

Kau tahu, si lelaki paruh baya itu keesokan harinya marah padaku. Mata tajamnya menyorotkan benci. Apakah ia merasa terganggu ataukah cemburu? Tapi syukurlah ia tidak menghajarku atau melempar sesuatu. tapi yang jelas semenjak itu ia semakin dingin. Betul-betul dingin tak peduli.

***
Dua bulan sudah berlalu. Perutku sudah semakin besar. Aku juga makin gelisah, bukan karena memikirkan si jantan pengelana yang tidak ada di sampingku bila aku melahirkan benih yang ditanamnya. Bukan. Aku sudah nyaris melupakan dia. Yang kupikirkan adalah tempat untuk melahirkan. Si lelaki paruh baya, semenjak peristiwa tempo hari itu, tidak lagi mengijinkan aku masuk ke dalam rumahnya. Duniaku hanya sebatas halaman dan teras rumah saja. Teganya ia padaku. Terlalu.

Malam itu aku kembali tidur-tiduran di depan rumah. Aku sedikit malas bergerak karena perutku semakin berat. Di antara tidur dan terjaga, aku melihat sesuatu yang bergerak meluncur pelan masuk menyelinap ke dalam rumah. Badannya panjang dan hitam. Aku terlonjak. Seketika itu langsung mencium bahaya. Aku bangkit dan berlari. Itu makhluk berbahaya, tidak saja bagiku, tapi juga bagi si lelaki setengah baya. Tidak! jangan sampai si lelaki dipatuk makhluk itu!

Aku coba menghadang. Si hitam panjang mengangkat kepalanya, marah padaku karena menganggu jalannya. Aku mencoba membuat gaduh, berteriak biar si lelaki itu terbangun. Kupasang kuda-kuda dan mengibaskan kaki. Si Hitam panjang semakin mengangkat kepalanya mencoba untuk menggertakku. Tapi aku tidak surut, terus menghalaunya. Ia pun semakin marah. Aku makin tak peduli. Yang penting ia harus pergi dari sini. Ini bukan teritorialnya.

Kucoba terus menghalaunya. Kepalanya makin siaga. Aku terus merangsek dan berteriak. Ke mana lelaki itu? Mengapa ia tidak terjaga dan keluar melihat apa yang terjadi? Saat aku mencoba terus maju, ia pun melancarkan serangan. Dengan cepat aku berkelit, melompat dan menghindar.

Ia melancarkan serangan lagi, aku terkesiap. Tanpa diduga patukannya mengenai bagian depan tubuhku. Aku pun meradang dan membalas serangan. kami pun bergumul.

Ia membelit tubuhku dan dan mematukku lagi. Aku kalap dan membalas dengan menggigit tubuhnya yang licin. Saat memberi perlawanan aku terus berteriak membuat gaduh. Tapi tubuhnya semakin kuat melilit tubuhku. Aku tak kuasa bergerak dan bernapas dan terus menjerit minta bantuan.

Si lelaki paruh baya itu akhirnya keluar. Tentu saja ia terlonjak kaget melihatku bertarung dengan seekor ular. Dengan cepat ia berbalik dan beberapa detik kemudian kembali dengan sepotong tongkat. Dikibaskannya tongkat itu dengan cepat ke arah kami yang tengah bergumul. Tanpa menunggu kesempatan ia terus melancarkan serangan. Dan saat yang tepat, ujung tongkat itu tepat mengenai kepala si hitam panjang. Belitannya jadi mengendur dan aku berhasil meloloskan diri.

Si lelaki itu tanpa henti terus memukul si hitam panjang yang makin tak berdaya. Bertubi-tubi hingga ular itupun diam tak bergerak dengan kepala yang nyaris hancur.

Aku limbung. Pandanganku mengabur. Seperti ada sesuatu yang melumpuhkan seluruh otot dan aliran darahku. Lelaki itu segera meraih tubuhku dan didekapnya ke dada.

Sepanjang kebersamanku dengannya, inilah pertama kalinya ia membelaiku sembari tergugu dengan wajah penuh penyesalan.  Dalam samar kulihat bibirnya bergerak seakan berkata,

"Kucingku sayang...jangan mati! Kau jangan mati!" ia terisak.


Kesadaranku semakin menghilang, sejurus kemudian aku pun tidak ingat apa-apa lagi...

foto: gettyimages.com

0 komentar:

Posting Komentar