Senin, 07 Maret 2016

Ayah


Dalam hidupku, baru empat kali kulihat ia mengeluarkan air mata. Namun itu bukanlah ekspresi kesedihan yang mengguncang perasaannya, tapi wujud rasa haru atas kebanggaan seorang laki-laki. Pertama, ketika aku lulus kuliah. Kedua, saat adikku, Iwang, mengikuti jejakku, diwisuda. Laki-laki mana yang tidak bangga dengan keberhasilan anak-anaknya menempuh pendidikan dengan prediket cum laude? Ketiga, saat aku menikah. Mata ayah tampak berkaca-kaca ketika aku mencium tangannya sebelum prosesi ijab kabul dilaksanakan. Sang penghulu memintaku untuk memohon restu pada orangtua kami. Aku melihatnya menghapus setetes butiran bening yang keluar di sudut matanya untuk kemudian mengalihkan perhatian dengan tersenyum sebaik mungkin. Dan terakhir, ketika Iwang, kembali mengikuti jejakku enam bulan yang lalu dengan mempersunting pujaan hatinya. Mata ayah, tidak hanya berkaca-kaca, tapi berlinangan. Bagi orang-orang yang melihat pada saat itu, mungkin mengira ayah seorang laki-laki tua sentimentil yang tak mampu menyembunyikan perasaan. Tapi tidak bagi anaknya, aku tahu persis makna yang mengiringi tetesan air mata itu. Air mata seorang laki-laki sejati.

Mungkin kau akan membantahnya dengan premis yang lebih masuk akal. A man doesn’t cry. Tapi aku juga punya alasan sendiri mempertahankan pendapatku. Belasan tahun lalu, ketika peristiwa paling menyedihkan dalam keluargaku terjadi, laki-laki itu sama sekali tidak menangis. Setegar batu karang ia menghadapinya, menenangkan aku dan Iwang agar tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Di usiaku yang baru sebelas tahun dan Iwang, sembilan, kami ditakdirkan jadi piatu. Dan ayah menyandang status duda di usia yang ke 38. Kematian ibu sungguh mendadak waktu itu. Masih lekat di ingatan, ibu baru saja pulang menghadiri sebuah acara temu ilmiah di Yogyakarta selama seminggu. Ia merasa tidak enak badan dan tahu-tahu meninggal. Perkiraan dokter, ibu mengalami keletihan. Aku dan Iwang terguncang. Tapi ayah begitu kuat dan tabah, bahkan saat jasad ibu dimasukkan ke liang kubur, ayah terlihat tegar. Sedih, sudah pasti, dan itu terlihat di wajahnya. Tapi tak setetespun air matanya keluar. Saat kami berdua sesunggukan di pusara ibu, ayah menuntun kami melafazkan doa-doa agar ibu dilapangkan kuburnya dan diterima di sisiNya. Ketenangannya sungguh luar biasa waktu itu.

Sebagian orang menganggap laki-laki sejati tak perlu menunggu waktu lama untuk mencari pendamping setelah ditinggal mati oleh istrinya. Cinta hanyalah untuk orang yang masih hidup. Tapi ayah memilih kami sebagai ladang cintanya. Ia rela sebagai orang tua tunggal dengan menempatkan diri menjadi ayah dan ibu sekaligus. Sebagai kepala rumah tangga, ia mencari nafkah menghidupi dan mencukupkan segala kebutuhan kami. Sebagai ibu, ia memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan urusan yang kecil-kecil lainnya sampai aku dan Iwang cukup mampu mengerjakan urusan rumah sendiri. Itu adalah tahun-tahun tersulit baginya, tapi tak pernah sekalipun aku melihatnya mengeluh.

Aku juga masih ingat, kedatangan seorang nenek tak berarti kami bisa lepas dari tugas-tugas rumah tangga, walau nenek suka prihatin melihat kami mengerjakan tugas-tugas rumah. Ayah melarang nenek mengambil alih tugas-tugas itu dan sering kali kulihat mereka berdebat, sampai-sampai nenek menyuruh ayah menikah lagi supaya ada yang mengurus kami. Namun ayah selalu bergeming. Sepanjang yang aku tahu, ayah memang tak berkehendak menikah lagi. Tak pernah kulihat gelagat atau pun usahanya mencari istri. Bisa jadi ia belum bisa melepaskan bayang-bayang ibu. Buktinya hampir tiap bulan ia punya ritual mengunjungi makam ibu di tanggal kematiannya. Dulu, aku senang melihat kesetiaan ayah, tapi semakin beranjak dewasa aku melihatnya sebagai seorang lelaki yang mempunyai cinta yang absurd pada orang yang sudah tiada. Sebenarnya kalau ayah hendak menikah lagi, aku dan Iwang tidak keberatan. Tapi ayah tetaplah ayah yang punya pemikiran tersendiri yang tak bisa kumengerti. Mungkin ayah terinspirasi kisah Syah Jehan pada Mumtaz Mahal. Untung saja ayah bukan raja. Kalau tidak, barang tentu ia akan membangun istana di makam ibu.

Dan sekarang di usianya yang senja, ayah hidup sendiri. Walau sudah kami bujuk, ia tak ingin tinggal bersamaku, atau Iwang. Katanya, ia tak mau menjadi beban anak-anaknya.

“Hidupku di sini, di kota ini! Bukannya aku tak mencintai kalian, tapi kalian sudah punya kehidupan sendiri-sendiri.”

“Tapi kalau Ayah bersama kami, akan ada yang mengurus.”

“Aku bisa mengurus diri sendiri. Tidak kau lihat selama ini aku terbiasa mengerjakan apa-apa sendiri?”
“Kalau ada apa-apa bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” sorot mata itu begitu tajam seakan-akan menghakimiku punya pemikiran yang tidak-tidak.

“Bukannya aku mengharapkan hal buruk, tapi di sini ayah sendiri, tak ada siapa-siapa.”

“Percayalah! Aku baik-baik saja.”

“Jangan bilang kalau Ayah tinggal bersama kami, Ayah tak lagi bisa ke makam ibu.”
Ayah tergelak mendengar penuturanku. Sejenak ia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.

“Asal kau tahu, aku sudah tak melakukannya lagi semenjak hari pernikahan Iwang. Jadi sudah enam bulan ini aku berhenti mengunjungi makam ibumu.”

Alisku nyaris bertaut.

“Kenapa?”

“Tugasku sebagai ayah sudah selesai. Bagiku, membesarkan kalian, menyekolahkan kalian, dan menikahkan kalian bukan saja tanggung jawab tapi sekaligus merupakan hutangku pada mendiang ibumu. Nanti, kalau aku mati dan bertemu dengannya, aku bisa mempertanggungjawabkan amanah yang ia tinggalkan. Semua telah kutunaikan. Sekarang, aku laki-laki bebas. Biarkan aku dengan kesendirianku,” ujar ayah seraya memandangku tanpa kedipan. Aku tercekat.

“Tak ingin Ayah dekat dengan cucu?”

“Semua kakek tentu ingin dekat dengan cucunya! Tapi bukan berarti harus tinggal bersama-sama. Kalau kalian rindu, kalian bisa datang kemari. Dan bila aku merindukan kalian, aku juga bisa mengunjungi kalian. Aku rasa itu yang terbaik.”

Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku membiarkannya sendiri sedangkan aku dan Iwang berada jauh darinya? Tak mungkin kami kembali ke sini. Kami punya kehidupan di ibu kota. Pekerjaanku di sana, dan bisa jadi masa depanku juga. Di sini hanyalah masa laluku. Tapi ayah tak berkehendak meninggalkan rumah ini, kota ini, untuk tinggal bersama kami.

Di rumah kecil ini, ayah dan ibu memulai kehidupan mereka hingga lahir aku dan Iwang. Di sini kami dibesarkan. Di kota ini aku bersekolah hingga kuliah. Tak akan pernah terhapus dalam ingatan bagaimana dulu ayah mengantar kami ke sekolah dengan motor Astrea bulannya setiap pagi. Dari SD hingga SMP, kami memang selalu diantar, hingga suatu saat jok motor itu tak mampu lagi menahan bobot kami yang semakin berat. Lagi pula aku sudah mulai merasa malu untuk diantar. Ajaibnya, motor itu sampai detik ini dalam kondisi baik dan terawat dan masih dikendarai ayah kemana pun ia pergi. Ayah tak mau menggantinya dengan motor baru, padahal kalau ingin ia tinggal bilang saja.

Kesepian. Jauh dari anak-anak, tentu merupakan keadaan yang tak menyenangkan sebetulnya. Tak ada orang terdekat yang bisa diajak diskusi masalah apa pun. Dulu, ayah senang sekali membahas topik-topik yang lagi hangat diberitakan media massa, atau betapa serunya begadang nonton bola bersama. Tapi sekarang? Hanya kekerasan hatinya saja mempertahankan kehidupan yang sarat masa lalu ini dan aku tak mampu melunakkannya.
***
“Apa boleh buat kalau memang itu yang diinginkannya,” ujar Iwang dengan wajah pasrah. “Aku juga sudah berulang kali membujuknya, tapi ia tetap saja tidak mau. Kalau ia senang dengan kesendiriannya, kita tidak bisa memaksa.”

“Justru itu yang jadi pikiranku. Mana ada orangtua yang senang hidup sendiri? Jauh dari anak dan cucu tentu akan membuatnya kesepian. Tapi Ayah tak mau mengakui itu karena tak ingin menjadi beban. Bukankah sudah seharusnya begitu?”

“Tapi itulah Ayah. Menurutku, sebaiknya kita ikuti saja apa maunya. Kalau ia tak ingin melepaskan semua kenangan untuk tinggal dengan kita secara bergantian, kita tidak bisa memaksa. Terserah Ayah sajalah.”

“Tega kau membiarkan Ayah hidup sendirian? Sementara kita jauh di rantau?”

“Bukan soal tega atau tidak, tapi soal pilihan Ayah. Kita sebaiknya menghormati pilihannya,” ujar Iwang menyikapi pendirian ayah.

Aku menghela napas dalam-dalam Sepanjang hidupku ini, masih belum bisa mengerti jalan pikiran beliau. Apa yang membuatnya terus bertahan hidup sendirian di kota kecil jauh dari kami anak-anaknya? Kalau ia mau, tentu hidupnya jau lebih enak dan nyaman bersama kami.

“Belum tentu apa yang menurut kita bagus, juga bagus menurut Ayah, “ ujar Iwang seakan menyadarkanku atas pemikiranku selama ini.
***
Malam itu aku tengah asyik bercengkrama dengan putri kecilku. Saat pulang kerja merupakan saat yang paling menyenangkan karena bisa bermain dengan anak hingga melepaskan diri dari rutinitas kerja yang kian hari kian menumpuk. Saat itulah aku menerima telepon dari ayah. Dari nada suaranya aku merasa beliau sehat dan ceria. Tawanya terdengar lepas.

“Ayah baik-baik saja?” tanyaku saat itu. Ayah terdengar tertawa lagi dan berkata ia baik-baik saja, bahkan jauh merasa lebih baik belakangan ini.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawabnya terdengar begitu bersemangat di telingaku. “Aku menelponmu karena ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tapi sebaiknya kita membicarakan hal ini secara langsung. Tak pantas rasanya aku memberitahumu lewat telepon.”

“Jadi aku harus pulang?”

“Sebaiknya begitu.”

“Pentingkah?”

“Bagiku ini penting.”

“Katakan saja, biar aku tidak penasaran!”

“Hm, aku akan menikah!”

“Apa? ” aku kaget. HP di tangan nyaris terlepas. Sungguh tak menyangka apa yang ia sampaikan. Ayah mau menikah?

“Iya, aku akan menikah. Makanya kau dan Iwang harus pulang. Sekalian nanti kalian akan kukenalkan dengan ibu baru kalian.” Terdengar suaranya begitu santai dan nada bahagia layaknya seorang pria yang mau berumah tangga, begitu mantap di telingaku. Aku tercenung. HP yang aku pegang sekarang benar terlepas dari genggaman.
***
Perhelatan akad nikah sudah dimulai. Rumah kecil ini seakan tak mampu menampung orang yang hadir. Aku dan Iwang duduk satu baris dengan 4 calon saudaraku, anak dari Ibu Lili, calon ibuku, pendamping ayah. Ayah tampak gagah dengan setelan jas biru gelap dan peci hitam. Sesekali ia tersenyum ke arah kami. Sementara Ibu Lili tampak malu-malu dan lebih banyak menundukkan kepala di samping ayah. Usianya juga tidak lagi muda, tapi di mataku tampak sepadan dengan ayah. Sesekali anaknya menggoda ibunya. Sang penghulu yang usianya lebih muda dari ayah juga terlihat agak sungkan, bahkan tampak sedikit tegang. Mungkin tak biasa menikahkan pasangan yang usianya lebih tua darinya. Sebentar-sebentar ia memeriksa berkas-berkas yang ada di tangannya.

“Hmm, baiklah, tampaknya semua persyaratan administrasi sudah lengkap. Apakah bisa kita mulai saja akad nikahnya?” ujar pak penghulu yang kemudian dijawab hampir serentak oleh orang-orang yang hadir.

Lantunan ayat suci mengawali prosesi pernikahan ayah yang dibacakan oleh perempuan muda yang ternyata anak ibu Lili, calon saudaraku. Suasana tampak begitu hening ketika suaranya yang merdu melantunkan ayat suci. Kemudian prosesi langsung berlanjut ke acara inti, tak ada upacara mohon doa restu seperti aku dan Iwang dulu. Seorang laki-laki sepantaran pak penghulu bertindak sebagai wali nikah Bu Lili, yang ternyata adiknya sendiri. Akad nikah itu pun dimulai.

Suasana semakin hening dan khidmat, dan aku rasa jauh lebih khidmat dibanding pernikahanku dulu. Tampak ayah dan lelaki itu saling berjabat tangan.

“Saudara Imran Maulana Bin Abdurrahman, saya nikahkan dan saya kawinkan saudara dengan kakak saya yang bernama Lili Nuryana dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat shalat, tunai…” ucap lelaki itu dengan suara bergetar tapi terdengar jelas tanpa salah.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Lili Nuryana binti Ahmad Zarkasi dengan mas kawinnya yang tersebut, tuunaaii!” jawab ayah dengan intonasi yang jelas dan mantap di tengah keheningan orang yang hadir.

Sang Penghulu melirik pada saksi-saksi yang hadir.

“Sah ! Saaah!!” ujar para saksi.

Ketika Penghulu mengucapkan beberapa patah kata, aku tak menyimak lagi. Aku hanya menatap wajah ayah yang tampak dibalut bahagia. Bibirku tiba-tiba bergetar dan dadaku bergemuruh hebat. Tak percaya rasanya ini sungguh-sungguh terjadi. Pikiranku melayang-layang mengenang kembali kehidupan kami di masa silam. Bagaimana ia membesarkan kami seorang diri. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurus kami. Tak sekalipun ia memikirkan diri sendiri. Dan sekarang, di saat kami sudah berkeluarga, baru ia memikirkan kepentingannya sendiri. Tiba-tiba aku ingat ucapannya tempo hari:

“Tugasku sebagai ayah sudah selesai. Bagiku, membesarkan kalian, menyekolahkan kalian, dan menikahkan kalian bukan saja tanggung jawab tapi sekaligus merupakan hutangku pada mendiang ibumu. Nanti, kalau aku mati dan bertemu dengannya, aku bisa mempertanggungjawabkan amanah yang ia tinggalkan. Semua telah kutunaikan. Sekarang, aku laki-laki bebas…”


Kutatap wajahnya yang bahagia. Mungkin inilah saat yang ia tunggu dalam hidupnya, memulai kehidupan yang baru. Ketika aku memeluk erat dirinya memberi ucapan selamat, entah mengapa air mataku menggenang dan jatuh. Dulu ia melepas kami dengan air mata, sekarang aku juga melepasnya dengan linangan air mata. Ayah, semoga engkau hidup bahagia….


Foto: Gettyimage.com

0 komentar:

Posting Komentar